Rubrik Khazanah: Merawat Tradisi Lewat Wisata Edukasi Tenun Sambas

SAMBAS, SeputarSambas.id – Upaya melestarikan warisan budaya leluhur sekaligus memperkenalkan potensi wisata edukasi berbasis kriya terus digelorakan oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sambas. Berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sambas, Disparpora menggelar program bertajuk “Sehari Belajar Menenun” di Sentra Tenun IKM Sambas.

Kegiatan ini dirancang khusus untuk memperkenalkan lebih dekat proses pembuatan kain tenun khas Sambas, menumbuhkan kecintaan terhadap produk lokal, serta mengangkat sentra tenun sebagai destinasi wisata budaya yang edukatif. Sebagian besar peserta merupakan kalangan mahasiswa yang tampak begitu antusias mempelajari tahapan demi tahapan pembuatan kain tradisional tersebut secara langsung.

Melalui program ini, para peserta diajak memahami bahwa di balik keindahan sehelai kain tenun tersimpan proses pengerjaan yang panjang, membutuhkan tingkat ketelitian tinggi, kesabaran ekstra, serta waktu yang tidak sebentar.

Kepala Disparpora Kabupaten Sambas, Dedy Zulkarnain, dalam pengarahannya berpesan kepada para peserta agar mengikuti kegiatan ini secara sungguh-sungguh serta menyerap ilmu langsung dari para perajin berpengalaman.

“Menjadi perajin tenun bukanlah hal yang mudah. Prosesnya membutuhkan keterampilan, ketelitian, kesabaran, dan waktu yang tidak sebentar. Karena itu, ilmu yang didapatkan hari ini merupakan ilmu yang mahal dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ungkap Dedy.

Ia menegaskan bahwa tenun Sambas merupakan salah satu produk kriya unggulan daerah yang tidak hanya bernilai budaya tinggi, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi besar. Oleh sebab itu, pelestariannya harus dilakukan secara berkelanjutan agar tetap lestari dan diminati oleh generasi masa depan.

Dukungan serupa turut disuarakan oleh Sekretaris Camat Sambas, Fery Sukma. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah progresif dalam memajukan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena tidak hanya memperkenalkan budaya tenun kepada generasi muda, tetapi juga dapat meningkatkan perhatian terhadap produk lokal dan UMKM di Kecamatan Sambas. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat membuka peluang yang lebih luas bagi para perajin untuk mengembangkan usahanya,” ujar Fery Sukma.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Camat Sajad, Abdul Hadi, menuturkan bahwa wilayahnya juga memiliki tradisi dan aktivitas produksi tenun. Menurutnya, pelibatan generasi muda adalah kunci utama agar warisan leluhur ini tidak punah tergerus zaman.

“Dengan adanya generasi muda yang mau belajar menenun, kita berharap keterampilan dan warisan budaya ini dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” kata Abdul Hadi.

Kehadiran unsur akademisi, mulai dari Kepala Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata hingga para dosen pengampu beserta mahasiswa, memberikan warna tersendiri dalam menjembatani dunia pendidikan dengan pelestarian kebudayaan daerah.

Melalui program “Sehari Belajar Menenun” ini, Sentra Tenun Sambas diharapkan semakin dikenal luas sebagai pusat literasi budaya tradisional. Pengunjung tidak sekadar datang untuk melihat atau membeli hasil karya, melainkan mendapat pengalaman batin dan pengetahuan mendalam mengenai filosofi serta proses pembuatan kain tenun.

Kolaborasi apik antara Disparpora, Dekranasda, pemerintah kecamatan, dunia pendidikan, dan para perajin lokal diyakini mampu menjaga marwah tenun Sambas agar terus hidup, berkembang, serta menjadi kebanggaan identitas masyarakat Kabupaten Sambas. (Dilansir dari parpora.sambas.go.id / Red)

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *