Cerita dari Pesisir: Penyu, Tradisi, dan Kearifan Masyarakat Paloh

SAMBAS, SeputarSambas.id – Di pesisir Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, penyu bukan sekadar satwa laut yang datang untuk bertelur. Keberadaannya juga berkaitan dengan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu kisah yang melekat dengan kawasan ini adalah tradisi Perang Telur Penyu. Tradisi tersebut menjadi bagian dari sejarah budaya masyarakat pesisir Paloh. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian penyu, cara masyarakat memaknai dan melestarikan tradisi itu pun mengalami perubahan.

Kini, upaya konservasi dan pengembangan wisata menjadi bagian dari perjalanan Paloh dalam menjaga kekayaan alam sekaligus mempertahankan identitas lokalnya.

Paloh, Rumah bagi Penyu di Pesisir Sambas

Paloh merupakan kecamatan di bagian utara Kabupaten Sambas yang berbatasan dengan Malaysia. Kawasan ini memiliki bentang pantai berpasir yang panjang dan menjadi habitat penting bagi penyu, khususnya penyu hijau (Chelonia mydas).

Dalam artikel Menjaga Penyu di Batas Negeri, WWF-Indonesia menjelaskan pentingnya pantai-pantai Paloh sebagai lokasi peneluran penyu. Di kawasan ini, penyu betina naik ke daratan untuk meletakkan telur sebelum kembali ke laut.

Telur yang berhasil menetas akan menghasilkan tukik, sebutan bagi anak penyu. Setelah keluar dari sarang, tukik harus melewati perjalanan menuju laut yang penuh tantangan. Kondisi pantai, gangguan manusia, serta ancaman terhadap sarang turut memengaruhi peluang mereka untuk bertahan hidup.

Keberadaan penyu menjadikan pesisir Paloh memiliki nilai ekologis yang penting. Namun, hubungan masyarakat dengan satwa ini tidak selalu berpusat pada upaya perlindungan.

Dalam sejarahnya, telur penyu juga dimanfaatkan dan diperdagangkan. WWF-Indonesia mencatat bahwa perdagangan telur penyu pernah berlangsung di Kalimantan Barat, bahkan menjangkau Sarawak, Malaysia.

Riwayat tersebut menjadi bagian dari cerita panjang mengenai hubungan masyarakat Paloh dengan lingkungan pesisirnya.

Mengenang Tradisi Perang Telur Penyu

Salah satu tradisi yang pernah dikenal di Paloh adalah Perang Telur Penyu, yang juga dikaitkan dengan sebutan Parang Talok.

Dalam tulisan Dwi Suprapti yang diterbitkan WWF-Indonesia pada April 2016, tradisi ini digambarkan sebagai kegiatan saling melempar telur penyu. Pelaksanaannya dikaitkan dengan musim puncak peneluran, ketika telur penyu melimpah di kawasan tersebut.

Tradisi itu juga memiliki makna sosial bagi masyarakat. Kegiatan tersebut dikaitkan dengan ungkapan rasa syukur atas melimpahnya telur penyu, yang pada masa itu memiliki nilai ekonomi bagi sebagian warga.

Akan tetapi, pemanfaatan telur penyu secara masif turut menimbulkan persoalan bagi kelestarian satwa tersebut. WWF-Indonesia mencatat adanya penurunan populasi penyu akibat eksploitasi yang berlangsung dalam waktu lama.

Festival Perang Telur Penyu kemudian dihentikan pada 2005, bertepatan dengan pencabutan regulasi pajak pendapatan daerah terhadap pelelangan telur penyu oleh Pemerintah Kabupaten Sambas, sebagaimana dijelaskan dalam dokumentasi WWF-Indonesia.

Perubahan ini menjadi bagian penting dari sejarah hubungan masyarakat dengan penyu. Tradisi yang dahulu berjalan dalam konteks sosial dan ekonomi pada masanya kemudian menghadapi kenyataan baru: keberlangsungan penyu perlu mendapat perhatian lebih besar.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa memahami warisan budaya juga berarti memahami perubahan yang terjadi di dalamnya. Nilai kebersamaan dan identitas lokal tetap dapat dijaga, sementara praktik yang mengancam kelestarian satwa dapat ditinggalkan atau disesuaikan.

Dari Pengambil Telur Menjadi Penjaga Penyu

Upaya konservasi penyu di Paloh mulai mendapat pendampingan WWF-Indonesia pada 2009. Perjalanan ini melibatkan masyarakat setempat yang hidup berdampingan dengan kawasan pantai peneluran.

Dalam artikel Menjaga Penyu di Batas Negeri, WWF-Indonesia mengisahkan keterlibatan kelompok masyarakat pengawas atau Pokmaswas, termasuk Kambau Borneo, dalam kegiatan perlindungan penyu.

Salah satu hal menarik dari perjalanan tersebut adalah perubahan peran sebagian warga yang sebelumnya terlibat dalam pengambilan telur penyu. Melalui pendampingan dan peningkatan pemahaman mengenai konservasi, sebagian dari mereka kemudian ikut menjaga keberadaan satwa tersebut.

Perubahan semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam keberhasilan perlindungan lingkungan. Warga yang tinggal dekat dengan kawasan peneluran memiliki pengalaman langsung mengenai kondisi pantai dan berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan.

Konservasi pun tidak cukup dilakukan melalui larangan semata. Keterlibatan masyarakat, pengawasan pantai, edukasi, serta peluang penghidupan yang lebih berkelanjutan menjadi bagian dari upaya menjaga penyu dalam jangka panjang.

Perjalanan tersebut didokumentasikan lebih luas dalam buku Penyu dan Paloh: Perjalanan Konservasi di Ekor Borneo yang diterbitkan Yayasan WWF Indonesia pada 2022. Buku ini merangkum perjalanan konservasi di Paloh selama periode 2009–2022, termasuk dinamika kerja sama antara masyarakat dan berbagai pihak.

Festival yang Berubah demi Kelestarian Penyu

Sejarah Perang Telur Penyu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Tradisi ini masih menjadi bagian dari identitas budaya pesisir Paloh, tetapi penyelenggaraannya kini dikemas dengan pendekatan yang berbeda.

Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sambas melalui laman resminya melaporkan bahwa Festival Pantai Perang Telur Penyu 2026 diselenggarakan pada 7 Juli 2026 di Pantai Tanjung Api, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh.

Dalam penyelenggaraan tersebut, permainan yang dahulu identik dengan penggunaan telur penyu diganti dengan waterbeads biodegradable. Menurut Disparpora Sambas, penggantian ini merupakan bagian dari upaya mempertahankan unsur tradisi tanpa menggunakan telur penyu yang perlu dilindungi.

Festival tersebut juga menghadirkan pertunjukan seni dan tari tradisional, hiburan rakyat, serta kegiatan bersih pantai. Dengan demikian, acara ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan budaya pesisir dan meningkatkan perhatian terhadap konservasi.

Kepala Disparpora Sambas, Dedy Zulkarnain, S.Sos., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dapat menghubungkan pelestarian budaya dengan perlindungan alam.

“Festival Pantai Perang Telur Penyu merupakan contoh nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pelestarian alam,” ujar Dedy, sebagaimana dikutip dari pemberitaan resmi Disparpora Sambas pada 8 Juli 2026.

Menurut laporan yang sama, festival tersebut mencatat penjualan lebih dari 4.000 tiket. Angka ini menunjukkan tingginya minat pengunjung terhadap kegiatan budaya dan wisata yang diselenggarakan di kawasan pesisir Paloh.

Perubahan bentuk permainan menjadi contoh bagaimana suatu tradisi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Unsur budaya tetap dihadirkan, tetapi praktik yang dahulu menggunakan telur penyu tidak lagi menjadi bagian dari permainan.

Meski demikian, penggunaan bahan pengganti dalam kegiatan semacam ini tetap perlu memperhatikan dampak lingkungan. Klaim mengenai sifat dan keamanan bahan sebaiknya mengacu pada informasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan, agar kegiatan wisata tidak menimbulkan persoalan baru bagi ekosistem pantai.

Pantai Tanjung Api dan Potensi Wisata Konservasi

Selain menjadi lokasi penyelenggaraan festival, Pantai Tanjung Api juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata pesisir.

Dalam pemberitaan resminya pada September 2026, Disparpora Sambas menyebut keberadaan penyu yang datang untuk bertelur sebagai salah satu keunikan kawasan tersebut. Pantai Tanjung Api dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan tetap memperhatikan kelestarian alam.

Potensi ini membuka ruang bagi pengembangan wisata edukasi. Pengunjung tidak hanya menikmati suasana pantai, tetapi juga dapat mengenal kehidupan penyu, memahami pentingnya habitat peneluran, dan mempelajari upaya masyarakat dalam menjaga satwa tersebut.

Wisata berbasis konservasi memerlukan pengelolaan yang bertanggung jawab. Aktivitas pengunjung perlu diatur agar tidak mengganggu penyu yang sedang bertelur, merusak sarang, atau menghambat tukik menuju laut.

Dengan pendekatan yang tepat, kekayaan alam Paloh dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana edukasi. Masyarakat juga berpeluang memperoleh manfaat ekonomi melalui layanan wisata dan pengembangan produk lokal tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan.

Pengembangan wisata semacam ini sejalan dengan gagasan bahwa perlindungan alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Menjaga Penyu, Merawat Kearifan Lokal

Kisah penyu di Paloh memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat dengan alam dapat berubah mengikuti perkembangan pengetahuan dan kesadaran lingkungan.

Perang Telur Penyu merupakan bagian dari sejarah budaya masyarakat pesisir. Sementara itu, upaya konservasi menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat dan berbagai pihak memandang keberadaan penyu serta pentingnya menjaga habitatnya.

Tradisi tidak harus kehilangan makna ketika bentuk pelaksanaannya berubah. Nilai kebersamaan, identitas lokal, dan daya tarik budaya tetap dapat dipertahankan melalui kegiatan yang lebih memperhatikan keberlangsungan lingkungan.

Bagi Paloh, penyu juga merupakan bagian dari kekayaan alam yang berpotensi memperkuat identitas wilayah dan pengembangan wisata. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan perlindungan habitat, keterlibatan masyarakat, serta pengelolaan destinasi secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, kearifan lokal bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan masa lalu. Kearifan juga tercermin dalam kemampuan masyarakat untuk belajar dari sejarah, menyesuaikan tradisi dengan keadaan, dan menjaga agar kekayaan alam tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.


Referensi

  1. Yusra, A. A., Fisesa, A. A., Fachrizal, A., & Susanto, H. (2022). Penyu dan Paloh: Perjalanan Konservasi di Ekor Borneo. Jakarta: Yayasan WWF Indonesia. Buku ini mendokumentasikan perjalanan konservasi penyu di Paloh pada periode 2009–2022.
    Sumber: Buku Penyu dan Paloh — WWF-Indonesia
  2. Suprapti, Dwi. (2016, 11 April). “Menjaga Penyu di Batas Negeri (Bagian 1).” WWF-Indonesia.
    Sumber: Menjaga Penyu di Batas Negeri (Bagian 1) — WWF-Indonesia
  3. Suprapti, Dwi. (2016, 12 April). “Menjaga Penyu di Batas Negeri (Bagian 2).” WWF-Indonesia.
    Sumber: Menjaga Penyu di Batas Negeri (Bagian 2) — WWF-Indonesia
  4. Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sambas. (2026, 8 Juli). “Festival Pantai Perang Telur Penyu 2026 Berlangsung Meriah, Padukan Pelestarian Budaya dan Konservasi Penyu di Pesisir Paloh.”
    Sumber: Festival Pantai Perang Telur Penyu 2026 — Disparpora Sambas
  5. Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sambas. (2026, 19 September). “Pembinaan Sadar Wisata dan Sosialisasi Aplikasi Pelesiran Digelar di Pantai Tanjung Api.”
    Sumber: Pembinaan Sadar Wisata di Pantai Tanjung Api — Disparpora Sambas

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *